Bambu Untuk Kehidupan, Kehidupan Untuk Bambu





Belakangan saya tertarik mengikuti kegiatan dari Rumah Intaran melalui akun sosmed facebooknya. Banyak virus-virus positif disebarkannya, sesuai deskripsi bagaimana Rumah Intaran itu sendiri,

"ruang belajar bersama-sama, tempat menggali begitu banyak potensi-potensi alami yang bisa kita kelola tanpa merusaknya".

Pada saat mahasiswa saya sering mendengar dan membaca kata "Arsitektur yang berselaras dengan alam". Mungkin ini adalah sedikit "senggolan" untuk keadaan arsitektur kita saat ini, sering mengindahkan dan tidak memperdulikan alam yang senantiasa kita renggut demi pembangunan tapi tidak memperdulikannya sama sekali.  Mungkin juga inilah perkembangan Arsitektur yang harus kita angkat sebagai isu-isu nasional untuk Arsitektur, manusia dan alam itu sendiri.


Beberapa hari lalu (13/3/2015) saya juga tertarik pemaparan singkat tentang Bambu oleh Pak Gede Kresna di akun facebooknya.

Jalan-jalan Bersama Airasia
Berikut pemaparan beliau tentang bambu:


Menebang Bambu
Menebang bambu tidak hanya soal mengambil bambu dari rumpunnya, melainkan juga memberikan makanan bagi makhluk-makhluk kecil dibawahnya. Itu sebabnya istilah umum yang digunakan di Bali adalah Nektek tiying (Memotong bambu), bukan ngandik tiying (Menebang bambu).  Karena bambu yang sudah dipotong tidak pernah langsung ditarik dan dibersihkan melainkan dibiarkan tetap berdiri selama 2-3 hari, sehingga kandungan air didalam bambu menetes ke tanah. cara yang hingga kini masih dilakukan di beberapa desa di Bali. Dalam air yang menetes itu terdapat glukosa yang sangat digemari oleh bubukan (lapuk). MEMANEN BAMBU ADALAH PERISTIWA HIDUP karena bambu yang dipanen untuk mendedikasikan dirinya sebagai material masih sempat memberikan kehidupan kepada makhluk-makhluk kecil didalam tanah. Terhidupinya makhluk-makhluk tersebut dan berkurrangnya kandungan glukosa didalam bambu mengakibatkan material bambu menjadi tahan lama tanpa harus diawetkan.  Tanah tidak dirusak, pengguna bambu tidak dirugikan, makhluk hidup lain kebagian makanan dan keberlangsungan tetap terjaga. 



Sekarang, bambu dipanen secara terburu-buru dan diawetkan dengan bahan kimia. Dan secara terburu-buru juga kita menyebutnya dengan Eco, tapi TIDAK HIDUP.

Terlebih lagi menarik beberapa hasil diskusi dari komentar-komentar pengunjung tulisan beliau tersebut.

(saya kutip pemaparan beliau disini hanya untuk membantu saya mengingatnya nanti dan bisa melakukannya kemudian hari, tentu pembaca juga bisa mengingat ilmu yang di tulis beliau di akun facebooknya tersebut dari catatan blog ini.)

Komentar:
Wayan Winarta Architects
"Tambahan Bli, Setelah bambu ditebang, sebaiknya daun dibiarkan sampai mengering jangan dibersihkan sehingga akan terjadi fotosintesis, dimana helai daun bambu akan menyerap glukosa dalam batang sampai habis, batang bambu akan lebih mengkilat dan tentunya tidak disukai bubuk/rayap, perlakuan kayu kelapa juga demikian setelah batangnya ditebang, belah sesuai keperluan terus dijemur agar glukosa atau sagunya keluar (seperti bubuk putih) maka kayu kelapa akan semakin awet dan terhindar dari rayap/bubukan....alami dan tanpa zat kimia....salam"



Bambu Untuk Kehidupan, Kehidupan Untuk Bambu Bambu Untuk Kehidupan, Kehidupan Untuk Bambu Reviewed by Rusyaidi Ahmad, ST on March 23, 2015 Rating: 5

No comments:

Pengunjung yang Baik Selalu Meninggalkan Komentar :)

Powered by Blogger.