Eksplorasi Kebun Raya Banua 2018 : Upaya Penyelamatan Flora Endemik Kalimantan Selatan

Eksplorasi pekan pertama berada di Balangan | © rusyaidiahmad All Right Reserved

Bulan penuh cinta, februari tumbuhkan upaya penyelamatan flora langka Banua.   Kebun Raya Banua serius cintai flora.

Salam konservasi, begitu kalimat sapaan yang terdengar seperti ikut memotivasi setiap perjalanan tim eksplorasi Kebun Raya Banua.

Eksplorasi tumbuhan langka Banua dilakukan oleh Kebun Raya Banua Kalimantan Selatan selama dua pekan di dua Kabupaten. Eksplorasi pekan pertama Kebun Raya Banua bersama rekan peneliti dari BP2LHK Banjarbaru meliputi wilayah Kecamatan Halong di Kabupaten Balangan.

Sebagai langkah nyata eksplorasi dimaksudkan sebagai upaya penyelamatan tumbuhan langka Kalimantan Selatan yang keberadaannya mulai tergeser dan mengkhawatirkan di habitat aslinya.  Tumbuhan hasil eksplorasi kemudian diteliti dan ditanam diwilayah Kebun Raya Banua yang terletak di Banjarbaru. 

Penemuan Anggrek disalah satu batu besar | © rusyaidiahmad All Right Reserved


***

Sisi Lain Eksplorasi Kebun Raya Banua 2018 :Eksplorasi Balangan, Desa Marajai Kecamatan Halong


Hari Pertama (20/2/18)
Perjalanan Hari pertama tidak langsung menuju wilayah Desa Marajai, perjalanan justru terarah pada desa dengan akses termudah. Kecamatan Halong Kabupaten Balangan malam ini, Desa Mauya adalah pilihan tim eksplorasi.  Pencarian pertama adalah rumah kepala desa yang mungkin akan menjadi tempat persinggahan sementara.  Tidak seperti dugaan, malam ini ternyata kepala desa sedang tidak berada dirumah. Namun beruntung, bak gayung bersambut seorang warga menawarkan rumahnya sebagai tempat peristirahatan tim eksplorasi.  Rumah yang menurut saya sudah sangat nyaman dan istimewa, rumah dengan ruang tamu yang cukup lapang untuk tim eksplorasi tidur bersembilan. 

Persinggahan tim eksplorasi malam ini bukan tanpa tujuan. Selain untuk beristirahat dan melapor keberadaan tim untuk melakukan ekspedisi, tim juga harus mengumpulkan informasi dari warga mengenai kondisi belantara kaki pegunungan meratus yang mungkin berguna sebagai navigasi tim.




***

Hari Kedua (21/2/18)
Perjalanan pertama Tim eksplorasi berada di hari kedua.  Dengan berbekal informasi yang didapatkan dari masyarakat, perjalanan dalam pencarian tumbuhan langka dimulai dari range terdekat  cukuplah sebagai pemanasan.  

Hari ini tim eksplorasi terkonsentrasi untuk melakukan pencarian buah langka, sebab dipandu oleh Pak Hanif yang mengerti seluk beluk keberadaan pohon buah-buahan langka di sekitar desa Marajai. Pak Hanif sendiri adalah seorang ahli buah yang belakangan diketahui seorang penyuluh KB dari BKKBN desa Marajai, berkat hobi Pak Hanif kepada tim ekplorasi begitu percaya diri menjelaskan dari rasa, varietas, family, nama lokal serta nama latin dari buah yang ditemukan di desa Marajai.

Beruntung desa Marajai memiliki seorang ahli buah yang peduli terhadap kekayaan hutannya. Bekal pengetahuan yang dimiliki pak Hanif, masyarakat kemudian tahu akan keberadaan tumbuhan langka juga ikut serta melestarikan buah lokal yang keberadaannya semakin sedikit.

Trek belukar yang sering ditemui dalam perjalanan eksplorasi | © rusyaidiahmad All Right Reserved















.
 . 
***


Hari Ketiga (22/2/18)
Pak Utan mengajak tim eksplorasi untuk melakukan pencarian tumbuhan disekitar gunung tunggal.  Pak Utan seorang pemandu lokal paruh baya yang belakangan diketahui adalah tetuha adat Desa Marajai.

Gunung Tunggal, gunung karst yang berdiri menyendiri diantara pegunungan karst lainnya. 

Penampakan Gunung Tunggal Sejak dari kejauhan. | © rusyaidiahmad All Right Reserved

Beberapa tumbuhan anggrek memang banyak ditemui disekitar kaki gunung, namun sesaat memasuki punggungan vegetasi justru berbalik jarang. Sebab suhu dan kelembabanpun semakin kering.
Sesaat itu tim memutuskan untuk kembali dan berpindah haluan menuju goa yang terdapat disekitar tebing karst.


Mulut Goa ditebing Gunung Karst. | © rusyaidiahmad All Right Reserved

***

Hari Keempat (23/2/18)
Tidak banyak yang bisa dilakukan tim eksplorasi dihari keempat.  Hujan lebat sejak tadi malam menghambat perjalanan sejak pagi hingga siang, kekhawatiran tentang medan trek yang akan dilalui akan menyulitkan dan membahayakan tim eksplorasi.  Berkat informasi dari masyarakat, anak sungai hingga sungai besar akan meluap dan banjir.  Pak Syaifuddin seorang Ahli Peneliti dari BP2LHK yang juga bertindak sebagai ketua tim eksplorasi memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan pada hari keempat.  


Menyeruak dingin menembus tulang, hujan sejak tadi malam menunda langkah perjalanan.

***

Hari Kelima (24/2/18)
Subuh terasa lebih dingin, seperti enggan keluar dari kantung tidur.  Sebab hujan kemarin masih menyisakan udara menyiratkan aroma air hujan yang menghanyutkan.

Pertimbangan kemarin masih menyertai pagi ini.  Namun pertimbangan lain, eksplorasi harus tetap berjalan untuk memperoleh tumbuhan konservasi.  Hari ini pak Utan menggiring kami menuju Tanjungan Jelamu, berpindah tempat camp selama dua hari kedepan. Perjalanan diiringi bonus yang menyenangkan ketika berjalanan mengitari sebuah gunung dengan pemandangan sawah tadah hujan milik masyarakat desa Marajai.


Dedaunan yang menyisakan butiran air hujan  menjadi pemandangan yang lazim diperjalanan | © rusyaidiahmad All Right Reserved

Tepat sebelum siang, perjalanan kami terhenti disebuah pondok kecil yang sekitarnya dikelilingi aliran sungai, beberapa pohon besar dan semak belukar.  Tempat inilah yang akan menjadi lokasi bermalam selama tiga hari kedepan.  Siang ini tim dengan tanggap berbagi tugas, beberapa tim mengolah bahan makanan untuk makan siang,  beberapa lagi menyiapkan tempat bermalam dan sisanya membuat toilet emergency.  Seolah tim telah terbiasa dengan kerjasama, semua ikut bergerak.

Pencarian hari ini tidak selesai saat siang, pencarian tumbuhan konservasi masih berlanjut hingga sore.  Bersama pak Utan kami mengelilingi wilayah belantara Tanjungan Jelamu, wilayah dengan sungai-sungai kecil membelah belantara walau sesekali kami menemui pondok ditengah sawah tadah hujan milik masyarakat.

Pondok warga ditengah belantara Tanjungan Jelamu Kaki Pegunungan Meratus | © rusyaidiahmad All Right Reserved

***

Hari Keenam (25/2/18)
Hari ini rencana tim akan menuju Belantara Tanjungan Cincin, sebuah belantara yang Pak Edi yakini masih alami. Pak EdiSuryanto salah seorang peneliti dari BP2LHK mengatakan "Akan bertemu banyak varietes anggrek dan tumbuhan langka disana". Hal ini berkaitan dengan informasi dari masyarakat tentang belantara Tanjungan Cincin yang belum pernah terbakar, serta banyak ditemuinya hewan penghisap darah seperti "Pacet".

Namun hal lain kembali menjadi bahan pertimbangan, rencana tim eksplorasi berubah seketika berkat  informasi dari Iju seorang pemuda dayak memprediksi sungai-sungai yang membelah belantara sedang banjir berkat hujan semalam.

Pak Utan kembali berinisiasi menggiring tim eksplorasi menuju mandin begawak dibelantara Marajai, sebuah tempat yang berbeda arah dengan Tanjungan Cincin namun dengan kerapatan vegetasi yang juga baik.

Mandin Begawak setinggi 10-15 meter | © randita.putri All Right Reserved
Tepat diwaktu siang ditengah perjalanan, tim menemui bivak yang sedang ditunggui oleh masyarakat adat Dayak.
Di belantara Tanjungan Jelamu, Bivak memang saat sekarang sering dijumpai, berkat musim buah durian, lahung, marawin, dan juga karantungan. Bivak memang umum digunakan sebagai tempat peristirahatan sementara, karena dinilai efektif melindungi dari hujan selagi menunggu durian jatuh dari pohon (menjatu durian).


Pohon durian memang banyak tersebar diantara belantara Tanjungan Jelamu, diantaranya memang sudah ada pemilik turun temurun.  Seperti yang diakui oleh wanita dayak (27) yang kami temui, menurutnya pohon durian ini adalah milik datu dari keluarganya.  Terlihat beberapa batang ulin bekas rumah tua yang perkiraan berusia ratusan tahun masih berdiri tegak mengitari pohon durian.

Terlihat beberapa batang ulin bekas rumah tua yang perkiraan berusia ratusan tahun masih berdiri tegak mengitari pohon durian.
Sisa konstruksi rumah yang kini ditumbuhi pohon durian | © rusyaidiahmad All Right Reserved

***

Hari Ketujuh (26/2/18)
Hari terakhir eksplorasi, besok pagi harus berkemas dan meninggalkan belantara Tanjungan Jelamu.  Hujan malam ini membangkitkan kengerian diiringi dentuman petir yang mengguncang seisi pondok.

dalam suasana kantuk,kami mengumpulkan tenaga yang terkuras beberapa hari belakangan. Pagi ini tim eksplorasi mengemas tanaman hasil eksplorasi harus selesai sebelum siang, anggrek serta tumbuhan berkhasiat obat tengah disungkup menggunakan plastik dan media tanah yang diikat plastik.  Hujan kembali datang tepat ketika tanaman siap dikemas.

Hari ketujuh hujan panjang hingga perjalanan pulang, tim dipaksa harus selalu siap dengan segala kemungkinan cuaca. Karena pastilah tidak ada perpanjangan waktu perjalanan.

Tanah yang licin karena tergenang air menyulitkan untuk memulai perjalanan menaiki ataupun menuruni perbukitan, trek yang dilalui beberapa kali membelah anak sungai, mengalir deras karena debit yang meningkat berkat hujan tadi malam.

Pemandangan tidak lepas dari belukar, hutan dan beberapa area kebun serta sawah di perbukitan Marajai. Marajai memang tergolong lengkap dengan hasil alam, dan bahan pokok untuk sekedar hidup seluruh masyarakat desa.  Kini mungkin saatnya menikmati bonus perjalanan,  menikmati alam sembari berselfie oleh tim ketika melihat langit yang kini telah kembali terang.

Tugas Negara Boss !!! mantel kompak yang dimiliki Mang Haris, @randita.putri dan Pak @Syaifuddin.uzad | © rusyaidiahmad All Right Reserved


Desa Mauya kembali menjadi tujuan tim,  sementara beristirahat selama satu malam untuk kembali memulihkan stamina yang terkuras menjadi pilihan sebelum kembali pulang.  Juga menyiapkan pengemasan tanaman yang telah menunggu di desa Mauya sebelum besok benar-benar pulang menuju Kebun Raya Banua di Banjarbaru.

***

Dengan ikut serta kegiatan Eksplorasi Kebun Raya Banua, menjadi menambah banyak pengalaman berjalan didaerah hutan Kalimantan yang kaya akan flora endemik Banua. 

Mandin Begawak poto bersama | © @Syaifuddin.uzad All Right Reserved

 Goa di tubuh karst Gunung Tunggal | © @Syaifuddin.uzad All Right Reserved







Eksplorasi Kebun Raya Banua 2018 : Upaya Penyelamatan Flora Endemik Kalimantan Selatan Eksplorasi Kebun Raya Banua 2018 : Upaya Penyelamatan Flora Endemik Kalimantan Selatan Reviewed by Rusyaidi Ahmad, ST on March 11, 2018 Rating: 5

1 comment:

  1. asik nih di air terjun, pasti dingin banget tuh kena air dari atas di air terjunnya :v

    ReplyDelete

Pengunjung yang Baik Selalu Meninggalkan Komentar :)

Powered by Blogger.